Dari Kelompok Tani Hutan Hingga 1.076 Relawan Peran Besar Paguyuban Silihwangi Majakuning Jaga Gunung Ciremai dari Karhutla. Majalengka. PI NEWS Online .Jawa BaratTim gabungan yang dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai terdiri dari ratusan hingga ribuan personel lintas sektor.

Unsur-unsur yang terlibat dalam tim gabungan tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) meliputi:

  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD): Mencakup BPBD Kabupaten Kuningan, BPBD Provinsi Jawa Barat, serta dukungan dari BPBD daerah sekitar seperti Kabupaten Cirebon dan Majalengka.
  • Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC): Selaku pengelola resmi kawasan konservasi Gunung Ciremai.
  • TNI dan Polri: Personel dari kodim, polres setempat, hingga koordinasi dengan TNI AU untuk rencana bantuan helikopter pemadaman udara (water bombing).
  • Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar): Petugas pemadam kebakaran dari Kabupaten Kuningan, Cirebon, dan Majalengka.
  • Instansi Terkait Lainnya: Meliputi Satpol PP, Perhutani, dan Tagana (Taruna Siaga Bencana).
  • Relawan dan Warga Lokal.

Masyarakat yang selalu siaga menjaga kelestarian lingkungan Gunung Ciremai dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi akhir-akhir ini tidak lepas dari peran Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Paguyuban Silihwangi Majakuning.

Sejak tahun 2021, KTH membentuk barisan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang diinisiasi oleh Paguyuban Silihwangi Majakuning. Gerakan MPA ini sejalan dengan arahan dan program Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Minggu 25/10/26.

Tiap memasuki puncak musim kemarau, warga desa penyangga kawasan Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan, Cirebon dan Majalengka meningkatkan kewaspadaan. Di tengah kondisi vegetasi yang mengering, masyarakat justru memperkuat peran mereka sebagai garda terdepan pencegahan kebakaran.

Gerakan tersebut diwujudkan melalui pelatihan penggunaan peralatan pemadaman yang digelar di tiga kabupaten.

Anggota MPA mengikuti pelatihan secara langsung bersama petugas Damkar juga instansi terkait untuk meningkatkan kemampuan menghadapi kebakaran di kawasan hutan.

Pelatihan tidak hanya berfokus pada penggunaan mesin penyemprot air bertekanan sedang. Warga juga belajar membentuk kru pemadaman profesional, mulai dari nozzleman, helper hingga operator. Pola komunikasi tim, penggunaan alat komunikasi dan aba-aba di lapangan turut dilatih agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih terkoordinasi ketika menemukan titik api.

Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan keberadaan masyarakat di sekitar kawasan hutan sangat penting dalam upaya deteksi dini.

“Ketika ada titik api, mereka yang paling awal tahu. Karena itu sejak 2021, siang juga tidak peduli malam hari kami selalu ikut mengantisipasi karhutla, aktif mendukung patroli TNGC, dan merawat sekat bakar,” kata Nandar.

Menurutnya, keterbatasan peralatan pada awal pembentukan MPA mendorong masyarakat melakukan berbagai upaya secara swadaya. Pengalaman memadamkan api secara manual menjadi pelajaran penting hingga akhirnya warga berinisiatif merakit dan menyediakan peralatan yang lebih efektif untuk menjangkau titik kebakaran.

“Tidak hanya peralatan, paguyuban juga menyediakan penyemprot punggung atau water jet shooter, kendaraan pengangkut air dan kendaraan khusus untuk membawa peralatan pemadaman ke lokasi yang sulit dijangkau kendaraan besar. Dengan konsep tersebut, tim dapat membawa selang pemadam hingga ke area hutan yang memiliki sumber air seperti embung atau tempat penampungan air,” jelasnya.

“Harapan kami kebakaran jangan sampai terjadi lagi. Tetapi antisipasi harus dilakukan sejak dini. Kalau titik api masih sedikit, harus cepat ditangani karena kalau sudah menyebar akan berbeda ceritanya dan jauh lebih sulit dipadamkan” ujar Nandar menegaskan.

MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning sendiri berawal dari Kelompok Tani Hutan (KTH) yang dibentuk pada 2021 dalam rangka kemitraan konservasi. Selain perlindungan kawasan, kelompok tersebut menjalankan fungsi pengawetan dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.

Nandar menyebut anggota KTH yang tersebar di sejumlah desa penyangga Ciremai mencapai 1.076 orang dan turut menjadi kekuatan utama MPA di lapangan.

Sebaran anggota tersebut mencakup sejumlah wilayah di Kuningan, Cirebon hingga Majalengka, sehingga koordinasi saat terjadi kebakaran dapat dilakukan lebih cepat.

“Kami hanya sekelompok masyarakat yang modal seadanya secara swadaya, tentu saja dalam kejadian kebakaran cukup besar seperti sekarang ini peran serta pemerintah yang bisa diandalkan” tambahnya.

Peran warga juga diarahkan tidak hanya untuk memadamkan api, tetapi menjaga keseimbangan ekosistem melalui penanaman dan kegiatan konservasi lainnya.

Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Lestari Ciremai.

Endi shamoy

Pos terkait