Legenda Tenis Meja Indonesia Yon Mardiyono Optimistis TTACC 2026 Lahirkan Bintang Baru Asia
PI News.com
Rabu, 10 Juni 2026
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai jamuan makan malam bersama para atlet, official, dan tamu kehormatan dari berbagai negara peserta 2nd Table Tennis ASEAN Club Championship (TTACC) 2026 di Pendopo Kota Bandung. Di sela kegiatan tersebut, Ketua Penyelenggara sekaligus Penanggung Jawab Pelaksana Kegiatan, Yon Mardiyono, S.H., menyampaikan optimismenya terhadap masa depan tenis meja Indonesia dan Asia Tenggara.
Menurut Yon, kejuaraan antarklub tingkat ASEAN ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah pembinaan atlet muda yang kelak menjadi tulang punggung tim nasional masing-masing negara.
“Kategori usia muda seperti U-13 menjadi fondasi penting dalam proses regenerasi atlet. Mereka adalah calon-calon atlet masa depan yang suatu saat akan membawa nama negaranya di berbagai kejuaraan internasional,” ujar Yon saat ditemui di Pendopo Kota Bandung.
Yon menilai TTACC memiliki nilai strategis karena mempertemukan klub-klub terbaik dari berbagai negara dalam satu arena kompetisi yang berkualitas. Ia bahkan menyebut kejuaraan ini sebagai bentuk “Liga Champions” tenis meja kawasan Asia Tenggara.
“Kejuaraan ini memberi kesempatan kepada atlet muda untuk mengukur kemampuan mereka melawan pemain-pemain terbaik dari negara lain. Pengalaman seperti ini sangat penting untuk membentuk mental juara,” katanya.
Sebagai tokoh yang telah lama berkecimpung di dunia tenis meja nasional, Yon Mardiyono bukan nama asing dalam olahraga ini. Ia merupakan mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan nama Indonesia di berbagai kejuaraan internasional. Salah satu pencapaian pentingnya adalah meraih medali perunggu nomor ganda putra pada cabang tenis meja di ajang SEA Games 2005 bersama pasangan David Jacobs.
Dalam wawancara tersebut, Yon juga mengingatkan bahwa tenis meja merupakan salah satu olahraga paling populer di dunia. Olahraga ini berawal dari Inggris pada akhir abad ke-19 sebagai permainan rekreasi dalam ruangan yang kemudian berkembang menjadi cabang olahraga internasional dan dipertandingkan secara resmi pada berbagai ajang multi-event dunia, termasuk Olimpiade. Kini tenis meja menjadi salah satu olahraga dengan jumlah pemain terbanyak di berbagai negara Asia.
Mengenai persaingan di TTACC 2026, Yon mengakui bahwa sejumlah klub dari Vietnam, Thailand, dan negara peserta lainnya memiliki kualitas yang sangat baik. Namun demikian, ia optimistis atlet-atlet Indonesia mampu memberikan perlawanan dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
“Kami melihat perkembangan atlet-atlet muda Indonesia sangat positif. Dengan pembinaan yang berkelanjutan dan kesempatan bertanding di level internasional seperti ini, saya yakin akan lahir generasi baru yang mampu bersaing di tingkat dunia,” ungkapnya.
Melalui penyelenggaraan TTACC 2026 di Kota Bandung, Yon berharap hubungan persahabatan antarnegara dapat semakin erat melalui olahraga, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan tenis meja di kawasan Asia Tenggara. “Olahraga selalu menjadi bahasa universal yang menyatukan. Semoga dari Bandung lahir persahabatan, sportivitas, dan prestasi yang membanggakan bagi seluruh negara peserta,” pungkasnya.
Catatan: Dari data yang dapat diverifikasi, Yon Mardiyono tercatat sebagai atlet tenis meja Indonesia peraih medali SEA Games 2005. Saya belum menemukan sumber tepercaya yang mengonfirmasi bahwa beliau merupakan peraih medali Asian Games. Jika Anda memiliki data resmi riwayat prestasinya, saya bisa menyusun ulang profilnya secara lebih lengkap dan akurat.
Reporter: Mehanur Revin








