Manuskrip “Wastu Jati Niscala” Dalam Sasanti Wangsa Sunda
Bojonegoro Jatim, pi-news.online // Dalam perjalanan realitas pitutur Sunda sesungguhnya ada pesan manuskrip yang Maha Dhasyad yaitu: *WASTU JATI NISCALA*
Kalimat ini bukan sembarang kalimat tetapi sudah mengandung sumpah mati atas semua prilaku hidupnya.
1. Filologi Per kosa Kata: Kosa Kata
Asal Bahasa
Akar Kata dan
Makna Literal
“WASTU dalam bahasa Sanskerta Sunda Vāstu” वास्तु “vas” = tinggal, diam, berdiam Tempat tinggal, Rumah, Fondasi, Realitas, kepastian Substansi,
Sementara, “JATI dalam bahasa Sanskerta SUNDA _Jāti” जाति “jan” = lahir, muncul, menjadi Sejati, Asli, Murni, Hakikat dan Kelahiran
Dan “NISCALA” Dalam bahasa Sanskerta Sunda = “Niscala” निश्चल “nis” = tidak + “cala” = goyah, bergerak Tidak goyah, Teguh, Tetap, Abadi, Pasti, tidak bohong, jujur dalam prinsip.
2. Gabungan Makna Filologis
Bahwa: “WASTU JATI NISCALA” = “Realitas Sejati Yang Tidak Goyah” sehingga bila tidak jujur akan memikul bencana
-Mari kita urai kebalik biar runtut:
1. NISCALA = Yang tidak bergerak, tidak berubah, tidak terombang-ambing
Lawannya: cala = goyah, bimbang, berubah
2. JATI = Yang asli, bukan palsu. Hakikatnya, bukan kulitnya
3. WASTU = Substansi dasar, fondasi, tempat berpijak, realitas
Jadi kalau digabung: Bermaknakan, sebagai “Fondasi Kebenaran Sejati yang Teguh dan Tidak Pernah Berubah”
-Catatan Filologi Tambahan
1. WASTU dalam bahasa Jawa Kuno juga dipakai di Asta Wastu = 8 arah mata angin.
Artinya: Tatanan ruang semesta. Jadi Wastu = hukum dasar alam.
2. JATI dalam Jawa = Jati Diri. Akarnya sama dengan Jati Wasesa = Kekuasaan Sejati.
3. “NISCALA” sering dipakai di kitab: Budi Niscala = Budi yang teguh. Iman Niscala = Iman yang tidak goyah.
-Kesimpulan 1 Kalimat Filologi
WASTU JATI NISCALA = “Inti Kebenaran yang menjadi Fondasi Semesta, yang Asli dan Tidak Akan Pernah Bergeser.”
Dalam Gama Ke-Esaan ini sama dengan konsep “GUSTI” atau “HUKUM RTA” = Tatanan yang tidak berubah.
Jadi, inilah makna arti sesungguhnya tentang tatanan kalimat *WASTU JATI NISCALA* dalam Sasanti Wangsa Sunda yang Mengandung Karma dan Segala Petaka. (Mbing)
*Foto istimewa: Ketua Umum DPP HPK Prof. Dr. Ir. Jadi Prajoko SH. MH. Ketum Kaluhuran Galuh Pakuan Padjadjaran YM. R. H. Ir. Sunan Asmara Hidayatuloh. MpLs, Panglima K. Galuh Pakuan Padjadjaran RM. Soewondo, Pimpinan Padepokan Walangsungsang Nyimas Ay. Ir. Noura Frans. SH.
Sumber: Ketua Umum DPP HPK Prof. Dr. Ir. Jadi Prajoko SH. MH








