Diduga Asal-asalan Proyek P3-TGAI Rp195 Juta Jadi Sorotan Pondasi dan Pasir Disebut Tak Sesuai Standar yang Dikerjakan Oleh Kelompok Tani P3A Saluyu
Bogor. Pi-News.online
Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026, yang berlokasi di, Desa Leuweung Kolot, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor menuai sorotan. Proyek senilai Rp195.000.000.; tersebut diduga dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas bangunan yang dibiayai dari uang negara.
Program yang bertujuan meningkatkan jaringan irigasi untuk mendukung produktivitas pertanian itu dilaksanakan berdasarkan dengan masa pelaksanaan selama 45 hari kalender.
Pekerjaan berada di bawah koordinasi Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS) dan dilaksanakan oleh Kelompok Tani P3A Saluyu.
Berdasarkan hasil penelusuran di lokasi tim menemukan sejumlah dugaan kejanggalan dalam proses pelaksanaan pekerjaan, terkait galian pondasi yang tingginya tidak sesuai, berikut pasirnya menggunakan pasir Abu, diduga sengaja untuk meraup keuntungan. Senin, (31/08/2026)
Saat peninjauan berlangsung, Ketua Kelompok Tani tidak ada di lokasi proyek. Selain itu, para pekerja juga tampak bekerja ada yang tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), yang dinilai bertentangan dengan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa penggunaan material tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan sebagaimana mestinya.
Tak hanya itu, dugaan penyimpangan juga terlihat dari aspek teknis konstruksi.
Berdasarkan temuan di lapangan, pondasi saluran disebut tidak digali, bahkan pasirnya menggunakan pasir Abu, diduga demi raup keuntungan peribadi.
Akibatnya terbentuk rongga kosong di bagian bawah pondasi yang berpotensi mengurangi daya dukung bangunan.
Apabila kondisi tersebut benar terjadi, konstruksi saluran irigasi dikhawatirkan lebih rentan mengalami keretakan, pergeseran, bahkan kerusakan dalam waktu relatif singkat. Hal itu tentu dapat mengurangi manfaat program yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan irigasi bagi para petani.
Dilokasi Pembangunan P3-TGAI, disitu ada Tim Pendamping Masyarakat ( TPM ) Kamipun langsung konfirmasi, terkait pasir yang di gunakan, TPM menjawab Iya Pak ini pasir Abu jika ingin lebih detail tanya aja langsung kepada ketua kelompok tani P3A Saluyu,” Ujar TPM.
Melanggar Spesifikasi Teknis P3-TGAI. Petunjuk teknis umumnya, mensyaratkan penggunaan pasir pasang alam atau pasir sungai. Karakteristik pasir yang diwajibkan adalah berbutir tajam, keras, tidak mudah hancur, dan memiliki kadar lumpur maksimal 5%. Pasir abu tidak memenuhi kriteria pasir alam murni ini karena merupakan limbah hasil gilingan batu pecah.
Hingga berita ini di tayangkan. Nurdin selaku Ketua Kelompok P3A Saluyu, belum bisa ditemui untuk dimintai klarifikasi terkait berbagai temuan tersebut.
Kami selaku awak Media juga, masih membuka ruang hak jawab bagi pihak pelaksana maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, untuk memberikan penjelasan.
Audit teknis dinilai penting guna memastikan proyek yang menggunakan dana negara benar-benar dilaksanakan sesuai spesifikasi, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Program P3-TGAI pada dasarnya merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat melalui kelompok petani dalam pembangunan infrastruktur irigasi.
Namun keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepatuhan terhadap standar teknis, pengawasan yang optimal, kelengkapan administrasi, serta penerapan aspek keselamatan kerja.
Apabila nantinya ditemukan adanya pelanggaran atau penyimpangan, masyarakat berharap aparat pengawas dan penegak hukum mengambil langkah tegas agar kualitas pembangunan tetap terjaga. Dengan demikian, anggaran negara yang digelontorkan benar-benar menghasilkan infrastruktur irigasi yang kokoh, berumur panjang, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan petani di Desa Leuweung Kolot.
( Staff Redaksi )








