Sudaryono Tegaskan BGN Harus Berdiri di Atas Sistem, Bukan Figur: Kepercayaan terhadap Institusi Menjadi Fondasi Penguatan Tata Kelola MBG
Jakarta, Pi News Online _ 24 Juli 2026 – Badan Gizi Nasional (BGN) memasuki fase baru di bawah kepemimpinan Sudaryono. Usai dilantik sebagai Kepala BGN oleh Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (22/7/2026), Sudaryono menegaskan pentingnya membangun kepercayaan terhadap kebijakan dan sistem kelembagaan, bukan menggantungkan keberhasilan institusi pada figur perorangan.
Pernyataan tersebut menjadi pesan penting di tengah semakin besarnya skala Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program prioritas pemerintah. Menurut Sudaryono, keberhasilan BGN dan MBG tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang memimpin, melainkan harus ditopang oleh kebijakan yang jelas, sistem yang kuat, tata kelola yang transparan, serta mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Memimpin Institusi, Bukan Membangun Kultus Figur
Dalam organisasi publik, pergantian pimpinan merupakan bagian dari dinamika kelembagaan. Namun, keberlanjutan sebuah institusi tidak boleh bergantung pada satu nama atau satu figur.
Karena itu, penekanan Sudaryono agar seluruh jajaran percaya kepada kebijakan institusi, bukan kepada orang perorangan, memiliki makna strategis. Pesan tersebut menempatkan BGN sebagai sebuah institusi negara yang harus bekerja berdasarkan mandat, aturan, prosedur, dan tujuan kelembagaan.
Pemimpin dapat berganti. Namun, sistem harus tetap berjalan.
Kebijakan institusi harus menjadi rujukan utama bagi seluruh jajaran dalam menjalankan tugas. Dengan demikian, loyalitas dalam organisasi publik tidak diarahkan kepada individu, melainkan kepada mandat kelembagaan dan kepentingan masyarakat.
Dari Personal Leadership Menuju Institutional Leadership
Kepemimpinan personal biasanya bertumpu pada pengaruh seseorang. Sementara itu, kepemimpinan institusional bertumpu pada sistem.
Perbedaan ini menjadi penting bagi BGN karena Program Makan Bergizi Gratis memiliki cakupan yang luas, melibatkan banyak pihak, dan membutuhkan koordinasi lintas sektor. Program dengan skala nasional tidak dapat bergantung pada hubungan personal, kedekatan, atau siapa yang mengenal siapa.
Pelaksanaan program harus ditentukan oleh kebijakan, standar operasional, data, prosedur, pengawasan, serta indikator kinerja yang jelas.
Dalam konteks ini, kepemimpinan Sudaryono membawa pesan bahwa BGN harus bergerak dari pola yang bergantung pada figur menuju institusi yang bekerja melalui sistem. Fokus utama bukan siapa yang memiliki pengaruh, tetapi apa kebijakan yang berlaku dan bagaimana kebijakan tersebut dilaksanakan secara benar.
Memperkuat Tata Kelola Program Strategis Nasional
Sudaryono sebelumnya menegaskan bahwa fokus utama kepemimpinannya adalah memperbaiki tata kelola BGN agar semakin transparan, akuntabel, dan berbasis sistem. Ia juga menegaskan bahwa MBG tetap menjadi program prioritas pemerintah, dengan perhatian pada perbaikan tata kelola tanpa mengurangi komitmen pelayanan kepada penerima manfaat.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa tantangan BGN ke depan bukan hanya memperluas jangkauan program, tetapi juga memastikan bahwa seluruh proses berjalan dengan standar tata kelola yang kuat.
Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya membutuhkan kecepatan pelaksanaan. Program ini juga membutuhkan kepastian prosedur, transparansi pengambilan keputusan, akuntabilitas penggunaan anggaran, pengawasan yang efektif, serta mekanisme koreksi ketika terjadi persoalan.
Semakin besar sebuah program, semakin kecil ruang untuk bergantung pada hubungan personal.
Semakin luas cakupan sebuah kebijakan, semakin penting sistem yang mampu memastikan setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama.
Menutup Ruang bagi Praktik Catut Nama dan Perlakuan Khusus
Penegasan untuk percaya kepada institusi dan kebijakan juga memiliki relevansi dengan upaya mencegah penyalahgunaan nama, kedekatan, dan hubungan personal dalam pelaksanaan program.
Sudaryono meminta masyarakat melaporkan apabila terdapat pihak yang mengaku dekat dengan dirinya atau keluarganya untuk menawarkan jasa, meminta imbalan, atau memberikan tekanan dalam pelaksanaan MBG. Ia juga menegaskan bahwa dirinya dan keluarganya tidak memiliki SPPG atau dapur MBG.
Sikap tersebut memperkuat satu pesan penting: dalam institusi negara, akses tidak boleh ditentukan oleh kedekatan personal.
Tidak boleh ada kebijakan yang berjalan karena seseorang mengaku sebagai orang dekat pejabat. Tidak boleh ada perlakuan khusus karena hubungan keluarga, pertemanan, alumni, atau jaringan tertentu.
Yang harus menjadi dasar adalah aturan, prosedur, kompetensi, integritas, dan kepentingan publik.
Dari “Percaya kepada Orang” Menjadi “Percaya kepada Sistem”
Dalam organisasi, kepercayaan kepada pemimpin tetap penting. Namun, institusi yang matang tidak boleh berhenti pada kepercayaan kepada individu.
Kepercayaan yang lebih kuat adalah ketika masyarakat percaya bahwa siapa pun pemimpinnya, sistem tetap mampu bekerja.
Ketika pemimpin berganti, kebijakan tidak ikut berubah secara personal.
Ketika pejabat berganti, standar pelayanan tetap berjalan.
Ketika seseorang keluar dari organisasi, institusi tidak kehilangan arah.
Inilah inti dari institutional trust: kepercayaan publik dibangun bukan hanya karena masyarakat mengenal siapa pemimpinnya, tetapi karena masyarakat percaya bahwa institusi memiliki sistem yang mampu bekerja secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.
BGN dan Masa Depan Institusi
Dengan skala Program Makan Bergizi Gratis yang besar, BGN membutuhkan institusi yang semakin kuat, profesional, dan mampu bekerja secara sistematis. Kepemimpinan Sudaryono menempatkan penguatan tata kelola sebagai salah satu agenda penting dalam memastikan program prioritas pemerintah tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah institusi bukanlah seberapa kuat ketergantungannya kepada seorang pemimpin.
Sebaliknya, institusi yang kuat adalah institusi yang tetap mampu bekerja dengan baik karena memiliki sistem, kebijakan, nilai, dan mekanisme pengawasan yang kokoh.
Karena itu, pesan Sudaryono memiliki makna yang lebih luas dari sekadar arahan internal kepada jajaran BGN.
Ini adalah pesan tentang bagaimana sebuah lembaga negara harus dibangun.
Bukan menjadi institusi milik seseorang.
Bukan bekerja berdasarkan kedekatan personal.
Bukan bergantung pada siapa yang sedang memimpin.
Melainkan berdiri di atas kebijakan, sistem, integritas, dan mandat untuk melayani masyarakat.
Dengan fondasi tersebut, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya menjadi program besar secara skala, tetapi juga semakin kuat secara tata kelola, transparan dalam pelaksanaan, akuntabel dalam pengawasan, dan berkelanjutan sebagai kebijakan publik.
Oleh : Ari Supit
Forum Makan Bergizi Gratis
(Redaksi)








