Gunakan Kurikulum Internasional Cambridge University, MR.Tumo Juga Buka Lebar Untuk Anak Desa
*Kang Prio: Kalimat Anak Desa bukanlah “anak yang tertinggal”. Anak Desa adalah “anak yang belum mendapatkan wadah”.*
Bojonegoro Jatim, pi-news.online // Sesungguhnya tidaklah seperti yang dibayangkan! dimana selama ini banyak yang mengira bahwa belajar Bahasa Inggris mengunakan kurikulum Internasional Cambridge University itu cuma untuk anak kota, sekolah swasta mahal atau anak orang kaya saja. Padahal mimpi itu tidak melihat kode pos dan jenis sekolah.
Menurut pandangan Founder MR.Tumo (Kampung Tumo) selaku Coach Priyo, Anak Desa juga punya hak dan berkesempatan sama untuk belajar Bahasa Inggris menggunakan kurikulum internasional Cambridge.
Kurikulum Cambridge dari Cambridge University Inggris, memang beda dari kurikulum biasa. Fokusnya bukan hafalan grammar, tapi Skill 4C yaitu Critical Thinking, Communication, Collaboration dan Creativity.
-Bagi konon anak Desa, ini penting sekali karena:
1. Bahasa Inggris adalah Jalan Keluar.
Mau jadi programmer, youtuber, ekspor hasil tani, kerja di luar negeri, beasiswa pendidikan di kampus Internasional atau untuk bisnis global, semua butuh kemampuan Bahasa Inggris. Sementara, Kurikulum Cambridge mengajarkan Bahasa Inggris yang dipakai di dunia kerja nyata, bukan hanya untuk kepentingan nilai ujian semata.
2. Belajar Sambil Praktek. Anak diajak diskusi, presentasi, bikin proyek. Jadi tidak takut berbicara. Walau tinggal di Desa, rasa Percaya diri anak akan tetap ada.
3. Sertifikat di akui Dunia.
Sertifikat Cambridge IGCSE/A-Level diakui lebih dari 10.000 Universitas di 160 Negara. Anak Desa bisa kuliah ke luar negeri tanpa “kaget budaya” karena dari SD,SMP,SMA sudah menggunakan sistem pembelajaran yang sama.
4. Mitos “Mahal & Nggak Mungkin” Harus Dipatahkan. Dulu memang iya, kurikulum Cambridge hanya di gunakan oleh sekolah swasta dengan biaya 50 juta/tahun. *Kini, bersama MR.TUMO,* siapapun anak Desa bisa memiliki kesempatan untuk belajar. Walau berada di Bojonegoro tapi materi pembelajaran bisa setara dengan anak di Singapura, Belanda dan Australia.
“Alhamdulillah MR.TUMO terus berbenah dan melakukan Inovasi. Melalui link, relasi dan pengalaman yang kami miliki, kurikulum Internasional CAMBRIDGE akan segera kami buka dan terapkan untuk seluruh anak di pelosok Desa” Coach Priyo CT,CPS® Founder MR.TUMO kampung Inggrisnya Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.
Sepenggal Harmony Kang Prio: Kurikulum Cambridge University bukanlah tembok berlin dan/atau tembok cina, tapi ia sebuah jembatan. Jembatan dari pelosok Desa diantara Kecamatan Kedewan, Kasiman, Kedung adem, Gondang, Sekar, Bubulan, Cepu, Kabupaten Blora, Kabupaten Tuban dan lainnya yang akan menghubungkan mimpi anak Desa menuju level Dunia. Karena mimpi tidak mengenal batas Desa. Yang membatasi hanya akses dan informasi semata. (Galoeh.Hs)








