Ibu sebagai Poros Peradaban: Refleksi Sastra tentang Kasih, Alam, dan Murka Kehidupan

 

Ibu sebagai Poros Peradaban: Refleksi Sastra tentang Kasih, Alam, dan Murka Kehidupan

Kuningan | PI-NEWS.online.com

Sosok ibu tidak hanya dimaknai sebagai figur biologis dalam lingkup keluarga, melainkan sebagai pusat nilai kemanusiaan, peradaban, dan keberlanjutan kehidupan. Pandangan tersebut disampaikan Ketua Komunitas Sastra Belantara Kuningan, Fauzan Jibar, dalam refleksi sastra yang mengulas makna ibu dari sudut pandang spiritual, filosofis, dan ekologis.

Menurut Fauzan, ibu merupakan simbol kasih sayang sepanjang masa, sekaligus representasi kelembutan dan kekuatan feminisme yang tak tergantikan. Ia menegaskan bahwa kehadiran ibu melampaui relasi darah, menjelma menjadi sumber nilai yang menopang keberadaban manusia.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” sebagai penegasan atas kemuliaan posisi seorang ibu. Namun, makna hadis tersebut, lanjut Fauzan, tidak berhenti pada penghormatan personal, melainkan membuka ruang tafsir yang lebih luas dan mendalam.

Dalam pemaknaan filosofis, ibu diibaratkan sebagai hamparan ruang tanpa batas seperti bumi dan air yang menjadi asal mula kehidupan. Dari rahim bumi, seluruh makhluk hidup lahir, tumbuh, dan berkembang di bawah naungan langit. Dalam konteks inilah, sosok ibu hadir sebagai Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi, simbol pengasuh dan penjaga kehidupan.

“Ibu Pertiwi adalah pengasuh para ksatria, para penjaga nilai kebenaran, yang berdiri tegak melawan kebatilan dan penindasan terhadap martabat sang ibu,” ujar Fauzan, Senin (22/12/2025).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tidak setiap manusia layak menyandang predikat ksatria. Ketika manusia justru bersikap durhaka
merusak alam, menindas sesama, dan mengkhianati nilai-nilai kehidupan maka murka alam menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Pada titik inilah, wajah ibu yang penuh kasih, menurut Fauzan, dapat berubah menjadi simbol kehancuran. Sosok ibu dimaknai menjelma sebagai Durga, representasi pembalas ketidakadilan. Bencana alam, krisis lingkungan, dan keruntuhan sosial dipandang sebagai peringatan keras atas pengkhianatan manusia terhadap ibu yang melahirkannya.

Refleksi ini menegaskan pesan moral bahwa penghormatan terhadap ibu tidak cukup diwujudkan dalam relasi keluarga semata, tetapi juga harus tercermin dalam sikap manusia terhadap alam, kehidupan, dan nilai kebenaran. Kasih sayang ibu akan senantiasa hadir bagi mereka yang menjaga dan merawat kehidupan, namun pengkhianatan baik terhadap ibu kandung maupun Ibu Pertiwi akan berujung pada kehancuran yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Pada akhirnya, manusia dihadapkan pada sebuah pilihan moral: menjadi ksatria penjaga martabat ibu, atau menjadi sosok durhaka yang menanggung akibat dari murkanya.

| andri hdw |

Pos terkait