Dinkes Kuningan Memperkuat Intervensi Berbasis Data, Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Tekan Stunting
Kuningan | PI – NEWS.ONLINE.COM
Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kuningan terus menunjukkan progres, meski diwarnai dinamika yang belum merata antarwilayah. Di tengah tren yang fluktuatif, Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan memperkuat strategi intervensi berbasis data dan kolaborasi lintas sektor sebagai pendekatan utama.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. H. Edi Martono, MARS, menegaskan bahwa variasi angka stunting di sejumlah kecamatan tidak bisa dipandang secara sederhana. Selain dipengaruhi faktor sosial dan ekonomi, perbedaan kualitas pendataan serta akurasi alat ukur di lapangan turut berkontribusi terhadap dinamika tersebut.
“Validitas data menjadi fondasi utama dalam menentukan arah kebijakan. Kami terus melakukan pembenahan sistem pelacakan agar setiap intervensi tepat sasaran,” ujarnya usai mengikuti Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Selasa (April 2026).
Secara umum, capaian Kabupaten Kuningan dinilai cukup progresif. Prevalensi stunting tercatat berada di angka 10,28 persen, lebih baik dibandingkan rata-rata nasional yang masih berkisar 15 persen. Meski demikian, Dinas Kesehatan menilai capaian tersebut belum cukup, mengingat target jangka panjang adalah eliminasi kasus stunting secara bertahap dan berkelanjutan.
Dalam kerangka itu, Dinkes Kuningan menitikberatkan pada penguatan intervensi spesifik, terutama melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) yang disertai edukasi konsumsi gizi seimbang. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada distribusi bantuan, tetapi juga memastikan pemanfaatannya sesuai standar kesehatan.
Peran kader kesehatan di tingkat desa pun semakin diperkuat sebagai ujung tombak edukasi dan pendampingan masyarakat. Melalui bimbingan teknis dari tenaga gizi Puskesmas, para kader dibekali kemampuan untuk mengawal praktik pemberian asupan gizi yang tepat bagi anak.
“Kader menjadi penghubung strategis antara program pemerintah dan perilaku masyarakat. Efektivitas intervensi sangat ditentukan oleh sejauh mana edukasi ini diterima dan diterapkan,” jelas dr. Edi.
Selain itu, sinergi lintas sektor terus didorong, termasuk keterlibatan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam menjangkau keluarga berisiko. Pendekatan berbasis komunitas dinilai menjadi langkah krusial untuk menekan disparitas antarwilayah sekaligus memperkuat ketahanan keluarga dalam aspek kesehatan dan gizi.
Dengan konsolidasi program yang semakin solid dan berbasis data, Pemerintah Kabupaten Kuningan optimistis tren penurunan stunting dapat terus dijaga. Penguatan kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak tumbuh kembang yang optimal.
| 4nd121 |








