oleh

Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jabar Ihsanudin  Ingatkan Pemprov Jabar Agar Pemulihan Ekonomi 

-Berita-11 views

Bandung, pi-news.online

Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jabar, Ihsanudin menekankan pemprov agar melakukan akselerasi pemulihan ekonomi. Fraksi Partai Gerindra DPRD Jabar, mengingatkan Pemprov Jabar agar pemulihan ekonomi di daerah tidak menimbulkan ketimpangan baru di bidang pembangunan. Meskipun demikian, fraksi ini mengapresiasi atas upaya Pemprov Jabar sebagai penggerak pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19.

Anggota Fraksi Gerindra, Ihsanudin menekankan pemprov agar melakukan akselerasi pemulihan ekonomi bersama dinas-dinas terkait dan pemerintah kabupaten/kota di Jawa Barat secara merata dan berkeadilan.

Jangan ada ketimpangan pembangunan baru seperti yang selama ini masih terjadi,” kata Ihsanudin, Rabu (17/2/2021).

Menurut dia, agar pemulihan ekonomi berjalan adil dan tidak ada ketimpangan, disarankan Pemprov Jabar melakukan refocusing tugas prioritas, antara lain pemberdayaan UMKM, pengembangan ekonomi kerakyatan lainnya, dan pengentasan kemiskinan.

Pemprov Jabar, kata dia, dapat memacu kebangkitan ekonomi dengan mendorong sektor pertanian, peternakan dan perikanan, pemulihan UMKM dan sektor pariwisata.

Tiga sektor ini memiliki dampak ekonomi dan dampak sosial besar, mendongkrak pendapatan dan peningkatan daya beli masyarakat,” kata Ihsanudin.

Dampak pandemi terhadap ekonomi masyarakat begitu terasa di semua sektor.  Antara lain terhadap eksistensi para pelaku UMKM. Karenanya, Ihsanudin meminta pemerintah lebih care pada penyelamatan nasib UMKM yang terdampak resesi ekonomi saat ini.

Dia menyebutkan dalam survei UNDP tergambar bahwa UMKM mengalami kesulitan keuangan akibat terdampak pandemi Covid-19. Ada tiga dampak utama yang dirasakan pelaku UMKM, yakni kesulitan untuk membayar utang, membayar biaya tetap seperti sewa tempat, dan yang terakhir kesulitan pembayaran gaji karyawan,” ujarnya.

Kebanyakan pelaku UMKM, tutur dia, merasakan dampak yang negatif dari sisi omzet penjualan, laba, aset, dan juga penurunan jumlah karyawan. Penurunan jumlah karyawan ini terjadi untuk semua tipe jenis usaha kecuali kelompok mikro, sebab usaha mikro jumlah karyawannya tidak terlalu banyak.

Selanjutnya, UMKM juga kesulitan untuk mendapatkan bahan baku produksi. Dan merasakan adanya kenaikan dan harga bahan baku sehingga sulit mereka berproduksi. Lalu, sebagian besar  permintaan produk UMKM juga sangat menurun akibat pandemi Covid-19,” ucapnya.

Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut, Ihsanudin menyarankan pelaku UMKM melakukan adaptasi dengan cara bertransformasi dari offline menjadi online.

Sehingga jumlah UMKM yang berpindah menjadi online meningkat, dari sebelumnya 28 persen menjadi 44 persen. Akan tetapi transisi ini belum setinggi yang kita harapkan karena mereka masih mengalami kendala juga untuk mengoperasikan online,” katanya.

Selain itu, menurutnya, ada tiga faktor penting yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM dan mendorong kebangkitan UMKM. Pertama adalah pembinaan karena pelaku UMKM, terutama pelaku usaha mikro dan ultra mikro, merupakan pelaku usaha baru.

Kedua, pembiayaan yang bisa menjangkau kelompok pelaku usaha UMKM dan ultra mikro yang unbankable. Ketiga, mendorong korporatisasi dan digitalisasi UMKM dan ultra mikro. (Ivan nt)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed