oleh

MIMPI BUNG KARNO DI TANGAN YENA-ATEP

Kab.Bandung, pi-news.online – “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.“ (Bung Karno)
Dalam acara pertemuan dengan Pengurus Anak Cabang dan Pengurus Ranting serta Tokoh PDI Perjuangan se Kec. Cimaung, Hj. Yena Iskandar Ma’soem menyampaikan materi terkait “Mimpi Besar”. Mimpinya ibu Yena (ambu bandung) yaitu bagaimana pemerintah(Yena-Atep) senantiasa hadir di setiap sanubari masyarakat Kab. Bandung sehingga sekecil apapun gerakan masyarakat akan terasa oleh pemerintah, kata kuncinya ada di pemahaman gotong royong. Merujuk pada kata bijaknya Bung karno, “Walaupun jembatan emas di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.. satu ke dunia sama ratap sama tangis..” BK dan Yena-Atep bermimpi jembatan emas itu arahnya ke  “satu ke dunia sama rata sama rasa”.

Menurut Hj. Yena Iskandar Ma’some awal pembicaraan, Kec. Cimaung wilayah dimana BK sering berkunjung, salah satu tema besar yang BK buat di Cimaung adalah dokumen “Mencapai Indonesia Merdeka” dari fakta tersebut BK dan Cimaung memilki ikatan khusus yang saking yang sangat sulit diterjemahkan dengan bahasa hari ini. Risalah yang ditulis ketika Bung Karno beristirahat disesuatu tempat dipegunungan Selatan Bandung pada bulan Maret 1933, mengajarkan kita tentang penderitaan rakyat pada saat itu, dan nampak bagaimana perasaan Soekarno tentang realitas keji dan sesangsara itu untuk bisa seger keluar dari jeralan jajahan. Fakta hari ini memang sudah merubah setelah kemerdekaan tetapi kendala yang di hadari Kab. Bandung ketika ada monopoli kekuasaan yang terjadi lemahnya peran gotong royong masyarakat sehingga pembangunan hanya di rasakan oleh orang yang terbatas dan sebatas, katanya.

Alasan itulah menurut  Hj. Yena Iskandar Ma’some, kenapa dunia apoteker yang sudak dia geluti hampir 20 tahun dia tinggalkan unutk selanjutnya  jalan berwarna di lapangan politik bersama PDI Perjuangan dan PAN, relaitas masyarakay Kab. Bandung yang terbatas gotong royong akibatnya dunia sama rata sama rasa hanya sebatas ungkapan kosong, menurut Ambu Bandung ini, berdosa kita pada sejarah apabila generasi hari ini tidak dapat menjadikan gagasan tersebut menjadi rohnya pembangunan., katanya.

Pada kesempatan yang berbeda Atep (sang kapten Persib), menambahkan di lapangan hijau dunia sama rata sama rasa sangat nyata dia rasakan dan yang menjadi prinsif dari gagasan yaitu perwujudannya tidak dapat dilakukan dengan basa basi atau omong kosong tetapi harus kita menangkan dengan cara-cara yang elegan, Bahasa “kemenangan harus kita rebut” itu tidak berarti menghalalkan segala cara, dari beberapa buku Bung Karno yang pernah saya baca, BK selalau menitik beratkan pada kata “Perjuangan”, dalam suatu pidato yang sempat saya dengan, BK mengatakan ”Siapa ingin memiliki Mutiara harus ulet menahan nafas dan berani terjun menyelami samudra yang sedalam-dalamnya”, jadi saya mengajak segenap kader PDI Perjuangan, PAN dan PSI serta para relawan yang bermimpi perubahan untuk bergotong royong mewujudkan amanah rakyat dengan penuh persaudaraan, katanya.

Pada tema debat hari dengan tema “Peningkatan pembangunan dan penyelesaian persoalan daerah serta sinergitas pembangunan Kabupaten Bandung dan nasional dalam rangka memperkokoh NKRI” hari ini Sabtu, 14 November 2020, jam 19.00 WIB, disampaikan live dari TVRI Bandung, tim Yena-Atep menggaris bawahi bahwa dalam konteks penyelesaian persoalan Kab. Bandung selama ini berdasarkan hasil temuan di lapangan yaitu masih lemahnya partisipasi masyarakat atau gotong royong itu mengalama pemelemahan karena pemerintah(kab. Bandung)  membuat dinding monopoli, kita merasakan di tingakt nasional saja dampak monopoli itu jelas akibatnya, hari ini bangsa kita tergagap dengan segela perkembangan teknologi dunia, untungnya ada generasi muda yang cerdas dan kreatif yang berusaha menjawab ketertinggalan walapun tentunya masih jauh jaraknya. Menurut Rudita Hartono (wakabid Bidan Pemenangan Pemilu dan Kepala Badan Saksi  Pemilu Nasional DPC PDI Perjuangan Kab. Bandung), kita tidak boleh terperosok pada lubang yang sama, jangan sampai akhir cerita kab. Bandung berujung di kamar sempit, ujarnya.
Rudita Hartono menambahkan, dalam kontek monopoli, sinergitas akan menjadi barang langka karena psiko monopoli sinergitas dipahami sebagai komando yang dependen, tidak ada independensi sikap, berbeda dengan gotong royong semua rakyat memiliki tindakan independen, sinergitas merupakan produk dari rasa yang sama karena keyakinan akan tujuan sama rasa dan sama rata sudah terurai sejak program itu di rancang, ujarnya.
Terakhir mang Rudi mengucapkan terima kasih kepada semua warga Kab Bandung , sebagai catatan Yena-Atep merupakan kehendak rasional dan pilihan cerdas dari segenap warga Kab. Bandung, Yena-Atep bukan sebatas kehendak PDI Perjuangan, PAN, PSI dan juga Relawan tetapi kehendah seluruh warha Kab. Bandung tanpa kecuali yang menghendaki perubahan unutk kebaikan Kab. Bandung  dan semoga hasil debat hari ini dapat menjadi jalan lebar bagi suksesnya pasangan No. 2 Hj. Yena Iskandar Ma’some, S.Si, A.pt dan Atep menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kab. Bandung, sehingga jembatan emas mengarah ke  sama rata dan sama rasat bukan jalan sesat yaitu satu ke dunia sama ratap sama tangis, ujarnya.    Fdg-Rh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed