oleh

Atep dan Sepak Bola di Panggung Politik

Kabupaten Bandung, pi-news.online
Para penggemar sepak bola di tanah air, hampir tak ada yg tak kenal nama Atep. Namanya sering disebut oleh komentator sepak bola di layar kaca dan diteriakkan dengan gempita dari podium stadion.

Bisa jadi, tak ada  bobotoh (sebutan untuk supporter fanatik) Persib yang tak meneriakkan nama Atep. Gol yg dicetaknya untuk Persib bahkan dirayakan secara khusus oleh para supporter dengan melakukan push up.

Mantan kapten Persib ini sekarang memilih lapangan lain sebagai Medan pertarungan, bukan lagi di lapangan hijau melainkan lapangan warna warni. Ia sekarang bertarung menjadi salah satu kandidat Wakil Bupati Kabupaten Bandung berpasangan dengan Yena Ma’soem sebagai calon Bupati yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan PI-News.Online, Atep memaparkan pandangannya terhadap politik yang saat ini ia geluti.

Menurut Atep, satu hal kesamaan antara politik dan sepak bola yang tak bisa diingkari oleh siapapun, yakni sama-sama ingin menang.

“Pilkada dan sepak bola ada kesamaan tujuan menang, lelahnya sama. Kemanfaatan yg sedikit beda. Sepak bola hanya sebatas penikmat bola yang bahagia”, urai Atep dengan antusias.

Profesional
Etos sepak bola diterapkan oleh Atep dalam politik. Khususnya dalam hal profesionalisme.

“Kerja atep, kerja profesional tdk mungkin minta bola ke lawan, kemenangan hrs diperjuangkan dengan cara-cara yang elegan. Atep tahu cara dan kapan tepatnya memberi, saat menerima dan saat merebut,  sehingga gool yang di capai merupakan karya profesional”, kata Atep.

Dengan Etos yang demikian, patutlah kiranya juga para pangku kepentingan dalam even Pilkada Kabupaten Bandung kali ini, berharap ada nuansa baru.

Terjunnya Atep ke dunia politik dapat membawa antusiasme baru ditengah rasa pesimis masyarakat luas terhadap politik.

Atep berharap agar seluruh yang terlibat dalam kontestasi ini bersikap profesional, baik para pasangan kandidat lain, penyelenggara, tim sukses, maupun masyarakat umum.

Atep berharap para kandidat yang berkontestasi meraih kepercayaan dan suara secara elegan, di sisi lain pemilik suara juga memberi suara kepada kandidat pilihannya dengan elegan.

Sidqoh Kreatif
Ketika ditanya, apa alasan Atep terjun ke dunia politik, Atep memberi jawaban singkat. “Atep mau sideqah kreatif” ujar Atep singkat.

Saat digali lebih jauh oleh PI-News. Online, pria berusia 35 tahun ini menjelaskan bahwa selain profesionalisme dunia sepak bola juga memerlukan kreatifitas. Dalam sepak bola, permainan yang membuahkan gol bukanlah produk akting melainkan buah dari memeras otak, kucuran keringat dan buah kreatifitas yang diuji detik per detik. Pola bermain yang seperti inilah yang mau dibawa Atep dalam dunia politik. Seakan mengingatkan amanat Bung Karno dalam renungan kemerdekaan yang pernah mengatakan bahwa ‘kemerdekaan kita bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit sambil merenung di bawah pohon kamboja’.

Pengalaman kerja keras dan kreatif dalam dunia sepak bola inilah yang mau disedekahkan Atep saat berkiprah di dunia politik, dan akan dipersembahkan untuk segenap warga kabupaten bandung.

Penjaga ‘Pabeasan

Sebagai pemain sepak bola profesional, Atep menerapkan secara kafah kaidah sepak bola yang kompetitif, profesional dan sportif saat bertarung di Pilkada Kabupaten Bandung.

Seperti halnya dalam sepakbola diperlukan peran kiper, maka dalam kontestasi Pilkada pun diperlukan peran kiper.

Dalam sepak bola peran kapten itu ibarat goong dlm suatu permainan, sang pemberi arah dan evaluator, agar fokus tetap terjaga dan gool bisa di raih dan kemenangan yang diimpikan jadi kenyataan. Tapi peran kiperpun tak kalah penting, karena titik akhir menang kalah ada pada posisi kiper.

Atep menjelaskan bahwa peran kiper itu seperti penjaga pabeasan (lumbung penyimpanan padi_red). “Lalu siapa kipper di pilkada, kipper di pilkada yaitu pengurus partai dan relawan, merekalah yg akan menjaga “pabeasan”. Di pundak merekalah permainan bola pilkada mulai dan berakhir” jelas Atep.

Spontanitas
Ketika ditanya sejak kapan berminat pada politik, Atep menjelaskan ia tak tahu persis sejak kapan berminat pada politik, akan tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa itu sesuatu yang spontan sebagaimana halnya dalam sepak bola.

Dalam sepak bola, alur permainan berlangsung secara spontan. Seorang profesional harus jeli memanfaatkan momentum dan kesempatan serta harus bisa beradaptasi dengan situasi yang dihadapi.

“Jadi jika ditanya apa alasan dan sejak kapan susah Atep jelaskan secara pasti”, terangnya.

Di akhir pembicaraan, Atep menyampaikan agar pemerintah memberikan perhatian bagi kemajuan sepak bola ke depan sehingga memberi ruang yang cukup bagi berkembangnya kreatifitas anak-anak muda kelak. Ia juga berharap agar stadion Sijalak Harupat yang telah menjadi ikon Kabupaten Bandung bisa memberi manfaat langsung kepada rakyat Kab Bandung atau setidaknya kepada rakyat sekitar stadion. [RG_12]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed