oleh

HOEGENG PAHLAWAN NASIONAL, DIDUKUNG AKARJOKOWI2013 & ALIANSI WARTAWAN

Jakarta, pi-news.online –Dalam hitungan detik, pasca dilantik menjadi Kepala Kepolisian Negara Indonesia (Kapolri) tgl. 5 Mei 1968 beliau langsung ‘mengaduk – aduk’ para pelaku kriminalitas papan atas yang selama ‘bobo cantik’

Belum juga Kapolri baru ini secara total merombak Struktur dibawahnya secara total,  muncul kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem (17), oleh anak anak pejabat di Yogjakarta. Lucunya si korban yang kemudian dipenjara dan dituduh Gerwani PKI.

Beliau ‘ngamuk, namun ada pembatas ‘politis papan atas’ yang tidak mampu ditembusnya, kalau pun dikoyak sangkur. Dan hingga Kiamat, tidak akan pernah terungkap siapa pemerkosa Sum Kuning.

Selain kasus Sum Kuning penjual telor keliling, beliau pun nekat membongkar kasus penyelundupan Ratusan mobil mewah, Al:  Alfa Romeo, Fiat, Quick, BMW, Marcedes Benz, Ford, Continental, Roll Royce, dan lain-lain. Mobil mobil mewah  bernilai miliaran rupiah yang dilakukan  Robby Tjah Jadi (Robby Cahyadi) yang dikenal ‘belut papan atas’ ini akhirnya mampu   dijebloskan ke penjara Komdak (Polda Metro).

Sayangnya karena ada jaminan dari ‘seseorang’ alias kelompok mafia papan atas’ melalui Kejaksaan, dia pun bebas. Ngeri !

Kapolri ‘Garis Lurus’ ini pun ‘berang, Robby terus dipantau Dan tidak lama kemudian Robby pun kembali ditangkap Dan dijeblosan lagi ke penjara oleh beliau, termasuk para pejabat yang terbukti menerima suap.

Dan, karena ke-2 kasus diatas inilah, beliau segera ‘dipensiunkan’ dini, karena dianggap telah lancang ‘mengaduk – aduk’ macan tidur.

Dialah, alm.Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Hoegeng Imam Santoso kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 dan meninggal di Jakarta, 14 Juli 2004 lalu pada umur 82 tahun.

Pasca pensiun dia aktif dalam kelompok PETISI 50 yang kemudian menjadi ‘Lawan tanding’ penguasa Orba.

KARIR HOEGENG
Hoegeng masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (1934) dan menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klasiek (1937).

Setelah itu, ia belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia tahun 1940.

Sewaktu pendudukan Jepang, ia mengikuti latihan kemiliteran Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943).

Setelah itu ia diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang Semarang (1944), Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1945-1946).

Kemudian mengikuti pendidikan Polisi Akademi dan bekerja di bagian Purel, Jawatan Kepolisian Negara.

HOEGENG PASCA PENSIUN
Selain aktif di PETISI 50, Hoegeng mengisi waktunya dalam grup Musik “The Hawaiian Seniors”, vokalis dan pemain  ukulele.

Perjalanan panjang pengabdiannya, hingga saat ini ‘terbalaskan’ dengan pengabdian nama beliau ‘hanya’ di sebuah  Rumah Sakit Bahayangkara di Mamuju, Sulawesi Tenggara  dengan nama “Rumah Sakit Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso”, that’s all, enough. ‘Agh..

Atas itu semua, Kami yang bertanda-tangan dibawah ini: Arief P.Suwendi (Kornas), Jimmy Hongrius (Sekretaris) dan anggota :
Widiarta Wirawan, Wawan Kurniawan, Rahmawati, Yuto Silondae, Zay M.Zainudin, Jerry Hongrius, Hokben Lingga, I Nyoman Parta Adi, Ani Gartini, Hernie C.Monteiro, Sunan M.Romansya, Corny Rahmawati, Baron Rony Bodi, Endang Ruwaliyana, Nurjanah, Rosa Oca, Rudi Mulyana R, Asep Rukmana, Anggiat Sugiatto, Denny Chua H, John Glen Panjaitan,  Hiasintus Sinto S, Rinaldo M.Tobing, Een H.Prayuda, Denny Quswantara … mewakili ALUMNI KONGRES RELAWAN JOKOWI 2013 [AKARJOKOWI2013] & ALIANSI WARTAWAN NON-MAINSTREAM INDONESIA [ALWANMI] mengusulkan kepada Presiden Ir.H. Joko Widodo agar berkenan menetapkan beliau (Alm.Jenderal Pol. Purn. Drs. Hoegeng  Imam Santoso) sebagai PAHLAWAN NASIONAL.

-BERSAMBUNG-
(PpRief/Zay/RL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed