oleh

“Iwan Suhermawan, Ketua HP2B: “EVALUASI KINERJA GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA BANDUNG SEKARANG !?”

pi-news.online – “Wah maaf kang, saya keberatan kalau ditanya bagaimana menanggapi  kepemimpinan Gubernur Jawa Barat,  kepemimpinan Bupati Bandung  Barat juga kepemimpinan Walikota Bandung . Apalagi dikaitkan dengan bagaimana  buruknya mereka menangani pencegahan pademi Covid 19 dan bagaimana buruknya data base pendudukan saat ini, sehingga  pembagian sembako banyak bermasalah”, demikian Iwan Suhermawan, Ketua HP2B – Himpunan  Pedagang  Pasar Baru Bandung melalui seluler (Selasa,12/5)

Mengapa ‘kang  Iwan, panggilan akrab kami,  enggan mengomentari Gubernur Ridwan Kamil.  Kang Iwan bilang, kalau pun dia dan teman-temannya di GURKHA  adalah Relawan Ring-1 Emil saat Pilgub Jabar 2018 lalu namun pasca menang  dan dilantik. Kang Iwan dan GURKHA-nya menjauh dari kekuasaan.

“Sifat kritis dan obyektif harus kami jaga, maka kami memilih ‘diluar pagar’. Enjoy, dan bebas melakukan apapun terhadap Ridwan Kamil alias Kang Emil. Sebagai yang menjagokannya, pastinya kami sangat kecewa atas evaluasi kinerjanya selama ini, termasuk di Covid 19 ini. Sense of phycological mass-nya kendor. Jauh dari yang kami kenal sebelum jadi Gubernur Jabar. Seperti kasus telor busuk sebanyak 4 ton di Garut kok malah dibantah dengan enteng, hanya 1,5 ton kok. Mashaa Allah kasus ini bukan bicara jumlah, bukan kuantiti, tapi   kualitas pemimpinnya. Dan Emil bertanggung-jawab atas itu.  Kalau ada kalimat yang lebih sopan dari ‘sombong , tolong katakan sama beliau. Jangan sombong !”, Jawab Kang Iwan dengan nada bergetar

Adapun malas mengomentari Bupati Kab. Bandung Barat (KBB) dan jajarannya, karena adanya kekacauan validasi data dari tingkat RT/RW hingga pemda. Kang Iwan warga Parongpong, KBB ini tidak mau menjawab, hanya menggeleng-geleng. Namun saat ditanya tentang Penerapan PSBB,  Kang Iwan mengatakan, “Asa cocoan anyar  barudak (seperti mainan baru anak), esensinya masih lemah, setengah hati. PSBB yang diterapkan masih ‘asal-asalan, asal boss senang. Padahal mereka itu ada honornya, coba tunjukan kepada saya dimana Itu pos2 check-point di KBB?, apa yang dikerjakan kecuali main sosmed?. Kadang dalam menerapkan   suatu aturan diperlukan kreatifitas dan Inovasi. Pos Pos check point lebih fokus saat jam ramai, siskamling warga dimaksimalkan kalau demikian. Tentunya harus ada insentif dong per-RT/RW sebagai uang kopi. “Fair-game dong, ini bukan bicara Gotong-royong sebagaimana warisan Bung Karno, Covid 19 ini ada dananya. Jangan munafiklah”, kata Kang Iwan.

Di Pos-Pos itu kalau perlu pamerkan kereta jenasah, kurung-batang, sebagai shock therapy kepada warga. Hal lain, masih kata Kang Iwan, mengenai temuan adanya sembako dengan daging ayam busuk Desa Citapen,KBB. Itu bukan soal kuantiti, ini moralitas dan   ibarat ‘gunung es didasar laut. “Kalau ada kalimat yang lebih halus dari ‘ketololan, ….mohon sampaikan kepada siapapun yang bermain disitu. Harus dibongkar agar   banyak orang dipenjarakan. Sebagaimana janji KPK dengan pidana matinya.

Disaat ditanyakan bagaimana tentang kepemimpinan Walikota Bandung khususnya kepada para pedagang Pasar Baru binaannya,  Kang Iwan, yang juga ketua Kompartement Pasar Tradisional dan Modern KADIN Jabar lebih awal mohon ijin menutup seluler karena ada giat lain.

“Punten Kang Arief soal Itu abdi No Comment, nuhun, Next-time kita lanjut, Assalamualaikum wrwb, tuutt..tuut.. tuut” seluler pun ditutup. (PpRief/Zay/RL))

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed