oleh

Tiga Perda Disahkan Menjelang Pergantian Tahun

Bandung, pi-news.online – Di Akhir 2019, DPRD Kota Bandung, menggelar rapat paripurna dengan agenda menetapkan Raperda menjadi perda di Gedung DPRD Kota Bandung, Selasa (31/12/19).
Rapat paripurna dipimpin oleh ketua DPRD Kota Bandung, Teddy Rusmawan didampingi tiga wakil ketua DPRD, Wali Kota Bandung Oded M Danial, dan Wakilnya Yana Mulyana.
Hadir juga hampir seluruh anggota DPRD dan Pejabat jajaran Kota Bandung.
Tiga perda yang disahkan yaitu pansus 1 tentang penangan kawasan kumuh, pansus 2 tentang penyelengaraan kepariwisataan dan pansus 3 tentang perlindungan dan pemenuhan hak disabilitas Kota Bandung)

Agus Gunawan ketua pansus 1, : kawasan kumuh harus berkurang”
Karena panitia khusus ( pansus )
1, Agus Gunawan mengatakan, untuk mengurangi kawasan kumuh di Kota Bandung, apa lagi Kota Bandung masuk nomor 2 kawasan Kota terkumuh di Indonesia, maka dibuatlah perda penyelengaraan perumahan, kawasan pemukiman dan penangan kawasan kumuh terbagi 11 Bab dan 86 pasal.

Menurut Agus di Kota Bandung Terbagi 151 Kelurahan Yang masuk kawasan kumuh tahun 2015: ada 121 Kelurahan atau seluas 1.471 hektar. Kawassn kumuh di tahun 2018 ada pengurangan menjadi 118 Kelurahan seluas 717 hektar.

Agus mengatakan kategori kawasan kumuh tidak ada jalan lingkungan, tidak ada draenase, lingkungan berantakan, tidak ada air PDAM, tidak ada sepiteng, dan tidak ada jalur masuk pemadam kebakaran
Pemerintah harus secepatannya mengatasi kawasan kumuh, makanya dibuat payung hukumnya ujar Agus.
Agus menegaskan, dalam perda yang harus dipatuhi dilaksanakan yaitu ada tim koordinasi setiap skpd untuk menangani kawasan kumuh.
Untuk mengatasi kawasan kumuh hampir semua SKPD memiliki kewajiban makanya harus dibentuk tim kordinasi.
Untuk menyempurnakan perda, pansus harus mengadakan studi banding ke Solo, Medan, dan Jakarta” ketiga daerah berhasil mengatasi kawasan kumuh, ” kata Agus.

Juniarso Ridwan, ketua pansus 2
“Ijin kepariwisataan dikelola pemerintah pusat

Ketua panitia khusus ( Pansus ) 2 Juniarso Ridwan yang membahas raperda tentang kepariwisataan memgatakan, perda tentang penyelengaraan kepariwiasataan sebetulnya sudah ada yaitu perda Nomor 7 tahun 2012. Perda itu harus direvisi karena ada peraturan kementerian pariwisata nomor 12 tahun 2016 terkait perijinan pariwisata dialihkan dari dinas pariwisata ke dinas penanaman modal dan pelayannan terpadu satu pintu.
Juniarso mengatakan perijinan tentang usaha kepariwisataan akhirnya dikelola pemerintahan pusat dengan adanya PP nomor 24/2018 bahwa seluruh perijinan kepariwisataan harus melalu portal OSS ( online single submisen ) jadi semua ijin terkait pariwisata kepemerintahan ousat melaui OSS,” ujarnya.
Revisi lainnya ada peraturan Menteri pariwisata nomor 10/2018 mengatur masuknya bidang ekonomi kreatip ke ranah kepariwisataan daerah.” Jadi terkait ekonomi kreatip di tangani dinas pariwisata,” ujar Juniarso.

Asep Mulyadi, Ketua pansus 3
“Wajib berikan fasilitas ke disabilitas”
Ketua pansus 3 Asep Mulyadi membahas Raperda terkait penyandang disabilitas mengatakan Perda yang dibahas hanya merefisi beberap Pasal Perda yang sudah dimiliki Kota Bandung dan ada Undang-Undang Disabilitas Nomor 8/2016.
Penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama dengan non disabilitas diantaranya memberikan pelayanan fasilitas jalan masuk gedung perkantoran, mall, rumah sakit dan lain lainnya” ujar Asep.
Menurut asep perda harus sama dengan undang undang memberikan penghargaan dan ramah terhadap disabilitas.
Pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana yang bisa diakses disabilitas. Contohnya disabilitas bisa berangkat sendiri dengan kendaraan umum. Bus milik pemkot harus ada fasilitas naik dan tempat serta audio penunjuk jalan didalam bus. Gedung pemerintah dan swasta wajib menyediakan pasilitas mulai akses masuk sampai toilet khusus disabilitas.
Begitu juga tempat fasilitas umum seperti taman di trotoar harus ada fasilitas untuk disabilitas.
“Pemerintah wajib menerima pegawai disabilitas 2% dari jumlah pegawai yang ada, sedangkan perusahaan swasta 1%, “ujar Asep ( Farry nt)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed