oleh

Dampak Diusirnya Penghuni Panti Wyata Guna, SLBN A Kota Bandung pun Siap-Siap Digusur

Bandung,pi-news.online
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mendatangi penyandang disabilitas yang tinggal di tenda darurat di trotoar depan Balai Wyata Guna Bandung. Para penyandang disabilitas berkeluh kesah kepada Uu terkait perubahan fungsi panti menjadi balai.
Uu datang ke tenda darurat di depan Wyata Guna, Jalan Pajajaran Kota Bandung pada Rabu (15/1). sekitar pukul 09.30 WIB. Mengenakan polo shirt putih, Uu langsung masuk ke tenda dan memperkenalkan diri.
Salah seorang penyandang disabilitas bernama Abim bercerita ia terusir dari Balai Wyata Guna sejak kemarin.
Pembubaran panti ini berakibat mahasiswa terusir, tapi sebenarnya banyak pelayanan yang akhirnya terpangkas karena panti itu pada dasarnya latihan dasar agar tuna netra menjadi mandiri,” kata Abim.
Terusir dari Wyata Guna, Penyandang Disabilitas Pasang Tenda Darurat
Abim menyatakan dia dan rekan-rekannya mengharapkan berada di sebuah panti untuk mendapatkan pelayanan dasar. Sementara di Jawa Barat, kata dia, minim adanya panti bagi penyandang disabilitas yang dinaungi oleh pemerintah daerah.
Di Jabar sendiri tidak ada panti sama sekali yang dinaungi Pemda. Yang kami inginkan kembalikan lagi Panti Wyata Guna sebagaimana panti yang pernah kami alami,” ucap Abim.
Sementara itu, Uu menyampaikan ‘terusirnya’ para penyandang disabilitas ini bukan semata-mata pemerintah tidak memperhatikan. Menurutnya ada aturan yang harus dilaksanakan.
Mohon maaf bukannya kami tidak memperhatikan, bukan kami tidak sayang kepada adik-adik semua, tapi adik-adik juga harus paham, karena fasilitas dan semuanya harus ada payung hukumnya. Menggunakan anggaran, menggunakan fasilitas kalau tidak ada payung hukumnya mohon maaf itu pelanggaran, kalau pelanggaran ada sanksi dari negara,” kata Uu kepada para penyandang disabilitas.
Menurut Uu, dalam waktu dekat akan segera mencari solusinya. Kami pemerintah Insya Allah akan bijaksana dalam membuat keputusan. Yang diinginkan, yang disampaikan bisa ada gayung bersambut. Kami membuat keputusan sesuai kewenangan, adik-adik pun tidak merasa keberatan,” tuturnya.
Sebelumnya sejumlah penyandang disabilitas merasa terusir dari gedung Wyata Guna. Mereka pun mendirikan tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara di trotoar depan Wyata Guna.
Terusirnya mereka bermula dari Kemensos mengeluarkan Permensos Nomor 18 tahun 2018 tentang organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis rehabilitasi sosial penyandang disabilitas di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. Melalui Permen tersebut nomenklatur Wyata Guna yang asalnya berbentuk panti menjadi balai.
Perubahan itu berdampak terhadap pelayanan penghuni asrama yang selama ini menghuni Wyata Guna. Puluhan penyandang disabilitas netra bahkan telah diminta meninggalkan Wyata Guna sejak 21 Juli 2019 lalu.
Polemik itu ternyata tidak hanya memberi dampak negatif terhadap penghuni balai. Tapi juga terhadap SLBN A Kota Bandung yang berada dalam satu kawasan kompleks dengan Balai Wyata Guna yang terancam tergusur.
Apalagi surat permohonan hibah tanah dan bangunan untuk SLBN A Kota Bandung yang diajukan Gubernur Jabar ditolak oleh Menteri Sosial Agus Gumiwang. Dalam surat balasannya, Agus justru meminta agar Pemprov Jabar segera mencari lokasi pengganti dan memindahkan SLBN A Kota Bandung. (Farry nt)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed