oleh

Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita, Ditinjau Dari Sisi Akademik

Bandung, pi-news.online – TUNAGRAHITA, DITINJAU DARI SISI AKADEMIK.

1. A. Pengertian Strategi Pembelajaran

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar juga merupakan proses berbuat melalui pengalaman belajar yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat tersebut. Sedangkan pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu sama lain.
Dalam proses pembelajaran dibutuhkan strategi untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. Inilah yang dikatakan sebagai strategi pembelajaran.
Menurut Sanjaya Wina (2007) istilah strategi dipakai dalam banyak konteks dengan banyak makna yang tidak selalu sama. Dalam konteks belajar mengajar, strategi berarti pola umum perbuatan guru – peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, maka konsep strategi dalam hal ini menunjuk pada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru – peserta didik dalam peristiwa belajar mengajar.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa defenisi strategi pembelajaran menurut para ahli, diantaranya adalah:

1. Kemp (1995)
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.
2. Kozma ( dalam Sanjaya, 2007)
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
3. Dick and Carey (1985)
Strategi pembelajaran adalah suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik.

B. Hakikat Ketunagrahitaan

Tunagrahita merujuk kepada fungsi intelektual umum yang di bawah rata-rata secara signifikan (merujuk kepada hasil tes intelegensi individu, berarti IQ di bawah rata-rata) yang berkaitan dengan hambatan dalam prilaku adaptif (merujuk kepada keterampilan adaptif, yaitu; komunikasi, merawat diri, kehidupan keseharian, keterampilan sosial, penggunaan komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik, waktu luang, dan karya) yang terjadi selama periode perkembangan (dari lahir sampai usia 18 atau 22 tahun).
Anak tunagrahita dibagi kepada tiga tingkatan, yaitu tunagrahita ringan, sedang, dan berat. Ketiga tingkatan ini mempunyai karakteristik yang berbeda. Adapun karakteristik umum tunagrahita itu adalah:

1. Keterbatasan intelegensi, dimana kapasitas belajar terbatas untuk hal abstrak.
2. Keterbatasan sosial, dimana anak tunagrahita tidak dapat mengurus diri sendiri dan cendrung meniru tanpa tau akibatnya.
3. Keterbatasan fungsi mental, dimana anak tunagrahita sukar memusatkan perhatian.
4. Jarang menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
5. Mengalami keterlambatan dalam perkembangan sikap.

Dilihat secara rinci, kecerdasan berfikir anak tunagrahita ringan paling tinggi sama dengan kecerdasan anak normal usia 12 tahun. Mereka memiliki tingkat kecerdasan paling tinggi diantara kelompok tunagrahita yang lain, dengan IQ berkisar 50-70. Meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang di bidang pelajaran akademik, penyesuaian sosial, dan kemampuan bekerja. (Amin, 1995:37).
Sebaliknya, anak tunagrahita sedang tidak bisa mempelajari pelajaran akademik. Mereka umumnya belajar secara membeo, perkembangan bahasanya sangat terbatas, hamper selalu bergantung pada orang lain, dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya, masih mempunyai potensi untuk belajar memelihara dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan, dan dapat mengerjakan pekerjaan yang mempunyai nilai ekonomi. Pada usia dewasa, baru mencapai usia yang sama dengan anak normal umur 7-8 tahun. (Amin, 1990)
Anak dengan tunagrahita berat tidak dapat membedakan bahaya, selalu tergantung pada pertolongan orang lain, kata-kata yang sangat sederhana, dan kecerdasannya hanya dapat berkembang paling tinggi sama dengan anak usia 3-4 tahun.
Ketunagrahitaan seorang anak dapat diketahui dengan melakukan observasi. Observasi dilakukkan dengan cara membandingkan anak dengan anak seusianya. Data hasil observasi dan tes spikologi dikumpulkan dan dibandingkan dengan usia anak sebenarnya. Adapun dalam tes Binet – Simon, anak yang tergolong tungrahita atau anak dengan gangguan intelektual yaitu:

1. Debil (IQ 50-70)
2. Imbesil (IQ 30-50)
3. Idiot (IQ < 30)

Angka tersebut di peroleh dari tes, dimana IQ = MA/CA X 100. Dengan CA merupakan umur anak dan MA merupakan haril tes intelegensi.

C. Klasifikasi Strategi Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita

Strategi pembelajaran tidak hanya diberikan kepada siswa yang normal, tetapi juga kepada siswa-siswa yang mengalami gangguan intelektual yang dikenal dengan anak tunagrahita. Anak tunagrahita secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental intelektual jauh dibawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, sehingga memerlukan layanan pendidikan kebutuhan khusus.
Selain itu, adanya gagasan EFA (Education For All) yang muncul pada tahun 1990 pada Konferensi Dunia tentang pendidikan untuk semua. EFA adalah sebuah inisiatif internasional yang diluncurkan di Jomtien, Thailand, pada tahun 1990 untuk membawa manfaat dari pendidikan kepada setiap warga di setiap Negara tanpa melihat bentuk fisik. Salah satu bunyi deklarasi EFA adalah menghilangkan kekakuan, memberikan pedoman tentang system pendidikan dan memberikan pendidikan secara fleksibel.
Dalam pemberian layanan pendidikan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita yaitu:

1. Direct Introduction

Merupakan metode pengajaran yang menggunakan pendekatan selangkah-selangkah yang terstruktur dengan cermat, dalam memberikan instruksi atau perintah. Metode ini memberikan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi untuk berprestasi. Pelajaran di rancang secara cermat akan memberikan umpan balik untuk mengoreksi dan banyak kesempatan untuk melatih keterampilan tersebut. Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap.
Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan. Sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok.
Direct introduction ini dapat diberikan kepada anak tunagrahita dengan mengkombinasikan strategi ini dengan strategi pembelajaran lainnya.

2. Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tapi belakangan ini metode Cooperative Learning ini hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti tugas-tugas atau laporan kelompok tertentu. Namun demikian, hasil penelitian 20 tahun belakangan ini menunjukkan bahwa strategi ini dapat digunakan secara efektif pada setiap tingkatan kelas dan berbagai macam mata pelajaran.
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lainnya dalam memahami materi pelajaran. Kelompok belajar yang mencapai hasil belajar yang maksimal diberikan penghargaan. Pemberian penghargaan ini adalah untuk merangsang munculnya dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Slavin (1995:16) mengatakan bahwa pandangan teori motivasi pada belajar kooperatif terutama difokuskan pada penghargaan atau struktur-struktur tujuan dimana siswa beraktifitas.
Ada banyak alasan yang membuat pembelajaran kooperatif memasuki jalur utama praktik pendidikan. Diantaranya adalah untuk meningkatkan pencapaian prestasi para siswa, dan juga akibat-akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri. Alasan lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berfikir, menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka.
Meskipun pembelajaran ini bersifat kelompok, tapi tidak semua belajar dikatakanCooperative Learning, seperti yang dijelaskan Abdullah (2001:19-20) bahwa pembelajaran cooperative dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama diantara peserta belajar itu sendiri.
Ada unsure dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Dalam pembelajaran kooperatif, proses pembelajaran tidak harus belajar dari satu guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa yang lainnya.
Menurut Siahaan (2005:2), ada lima unsure esensial yang ditekankan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Saling ketergantungan yang positif
b. Interaksi berhadapan
c. Tanggung jawab individu
d. Keterampilan sosial
e. Terjadi proses dalam kelompok

3. Peer Tutorial

Merupakan metode pembelajaran dimana seorang siswa dipasangkan dengan temannya yang mengalami kesulitan/hambatan. Oleh karena itu lebih ditekankan pada siswa yang mempunyai kemampuan di bawah kemampuannya.
Program tutorial juga dapat dilakukan dengan menggunakan software berupa program komputer yang berisi materi pelajaran dan soal-soal latihan. Perkembangan teknologi komputer membawa banyak perubahan pada sebuah program pembelajaran yang seharusnya di desain terutama pada upaya menjadikan teknologi ini mampu merekayasa keadaan sesungguhnya.
Sedangkan tujuan pembelajaran tutorial yaitu sebagai berikut:

a. Meningkatkan pengetahuan para siswa.
b. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa tentang cara memecahkan masalah agar mampu membimbing diri sendiri.
c. Meningkatkan kemampuan siswa tentang cara belajar mandiri.
—————————————————-

Sumber:
Asma, Nur. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang:UNP Press.
Jauhar, Mohammad. 2011. Implementasi Paikem. Jakarta:Prestasi Pustaka.
Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning. Bandung:Nusa Media.
Sumekar, Ganda. 2009. Anak Berkebutuhan Khusus. Padang:UNP Press
Wantah, Maria J. 2007. Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita

Azak-Tepas Brakatak Time

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed